Nyeri Leher: Saat Nyeri Menjalar ke Bahu atau Lengan
Memahami Radikulopati Servikal
dr. Lau Leok Lim — Singapura | lllau@orthohandpartners.com | Dipublikasikan: 27 Agustus 2025 | Terakhir diperbarui: 1 April 2026

Kisah Amanda: Saat Nyeri Leher Berkembang Menjadi Sesuatu yang Lebih Serius
Amanda, seorang akuntan berusia 42 tahun di Singapura, menghabiskan sebagian besar harinya duduk di meja kerja, berpindah antara monitor desktop dan laptop saat rapat dengan klien. Seperti banyak profesional yang bekerja di balik meja, ia sering mengalami ketegangan di leher setelah berjam-jam menatap layar.
Pada suatu minggu yang sangat melelahkan, setelah beberapa hari lembur, ia tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Keesokan paginya, ia terbangun dengan nyeri leher hebat yang menjalar ke bahu, lengan, dan lengan bawah kanannya. Kali ini, nyeri tersebut tidak membaik dengan peregangan atau pijatan. Ia menyadari genggamannya melemah dan mulai merasa khawatir.
Setelah evaluasi klinis dan pemeriksaan MRI, ia didiagnosis mengalami saraf kejepit (herniasi diskus) di leher yang menyebabkan radikulopati servikal — kondisi di mana akar saraf yang tertekan menimbulkan nyeri, mati rasa, atau kelemahan yang menjalar ke lengan.
Gejala Nyeri Leher dan Radikulopati Servikal
Banyak individu yang mencari perawatan leher di Singapura mengalami gejala yang mirip dengan yang dialami Amanda, terutama mereka yang bekerja lama di depan meja atau memiliki postur kerja yang kurang ideal. Sumber edukasi ini disusun oleh dr. Lau Leok Lim (Dr Lau LL), untuk membantu pembaca memahami radikulopati servikal serta penyebab nyeri leher lainnya berdasarkan bukti ilmiah.
Gejala umum meliputi:
- Nyeri leher tajam atau seperti terbakar
- Nyeri yang menjalar ke bahu, lengan, atau lengan bawah
- Mati rasa atau kesemutan di jari-jari atau lengan bawah
- Kelemahan otot atau penurunan kekuatan genggaman
- Penurunan refleks pada anggota gerak atas
Faktor Risiko Nyeri Leher
Beberapa faktor berikut meningkatkan risiko terjadinya radikulopati servikal:
- Usia 40–60 tahun (degenerasi diskus)
- Gerakan leher berulang atau postur kerja yang buruk
- Postur kepala condong ke depan akibat penggunaan layar dalam waktu lama
- Merokok, yang mengurangi asupan nutrisi ke diskus
- Pekerjaan fisik berat atau paparan getaran
- Predisposisi genetik
- Riwayat cedera leher sebelumnya
Penyebab Nyeri Leher dan Penekanan Saraf
Penyebab paling umum radikulopati servikal meliputi:
- Herniasi diskus servikal yang menekan akar saraf
- Taji tulang (osteofit) yang mempersempit jalur keluar saraf
- Trauma seperti cedera whiplash
- Tumor atau infeksi (jarang terjadi)
Radikulopati Servikal vs Mielopati Servikal
Radikulopati servikal terjadi ketika satu akar saraf di leher tertekan atau teriritasi, sedangkan mielopati servikal merupakan kondisi yang lebih serius yang disebabkan oleh penekanan pada sumsum tulang belakang itu sendiri.
Perbedaan utama:
- Radikulopati servikal memengaruhi satu akar saraf → gejala muncul pada area lengan atau tangan tertentu (nyeri, mati rasa, kesemutan, kelemahan).
- Mielopati servikal memengaruhi sumsum tulang belakang → gejala dapat muncul di kedua tangan, disertai gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, atau masalah koordinasi.
Meski merupakan dua kondisi yang berbeda, keduanya terkadang dapat terjadi bersamaan. Misalnya, herniasi diskus besar atau degenerasi berat dapat menekan:
- akar saraf → menyebabkan gejala pada lengan (radikulopati)
- sumsum tulang belakang → menyebabkan gangguan koordinasi atau berjalan (mielopati)
Ketika keduanya terjadi bersamaan, pasien dapat mengalami kombinasi gejala berupa nyeri lengan yang menjalar disertai kekakuan tangan atau gaya berjalan yang tidak stabil. Evaluasi dini sangat penting karena mielopati servikal dapat memburuk secara progresif jika tidak ditangani.
Kondisi yang Menyerupai Radikulopati Servikal
Karena nyeri dan kelemahan lengan dapat menyerupai kondisi lain, dokter juga akan mempertimbangkan:
- Stroke atau TIA (serangan iskemik sementara) — kelemahan mendadak, wajah merot, kesulitan bicara
- Robekan rotator cuff atau impingement bahu — nyeri yang dominan di bahu
- Carpal tunnel syndrome — mati rasa di ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
- Neuropati ulnaris — mati rasa di jari manis dan kelingking
- Cedera pleksus brakialis — kelemahan lengan yang luas setelah trauma
- Sindrom nyeri miofasial — simpul otot yang menimbulkan nyeri alih
Evaluasi yang tepat membantu membedakan radikulopati servikal dari kondisi-kondisi di atas, terutama bila gejala muncul secara tiba-tiba atau disertai kelemahan.
Cara Mendiagnosis Radikulopati Servikal
Diagnosis umumnya meliputi:
- Pemeriksaan fisik (tes Spurling, pemeriksaan refleks, tes kekuatan otot)
- MRI atau CT scan untuk melihat penekanan saraf
- Elektromiografi (EMG) untuk menilai fungsi saraf
Pilihan Penanganan Nyeri Leher
Penanganan Non-Bedah
- Modifikasi aktivitas dan koreksi postur
- Fisioterapi (traksi, penguatan otot, latihan mobilisasi saraf)
- Obat-obatan (NSAID, pelemas otot)
- Suntikan steroid epidural untuk mengurangi peradangan
Rutinitas Fleksibilitas Leher – Peregangan Lembut untuk Mobilitas
Penguatan Leher – Latihan Aman untuk Stabilitas & Dukungan
Banyak pasien mengalami perbaikan signifikan melalui kombinasi koreksi postur, fisioterapi, dan latihan penguatan yang terarah.
Intervensi Bedah
- Bedah Servikal Anterior (ACDF & Penggantian Diskus Artifisial)
- Foraminotomi servikal posterior
Perawatan Leher di Singapura: Kapan Harus Mencari Bantuan
Jika Anda mengalami nyeri leher yang menetap, gejala menjalar ke lengan, atau kelemahan, evaluasi dini sangat penting. Pemeriksaan yang tepat waktu membantu mencegah iritasi saraf jangka panjang dan mendukung proses pemulihan.
Kesimpulan
Radikulopati servikal dapat memengaruhi fungsi harian dan kualitas hidup secara signifikan. Pengalaman Amanda menunjukkan bagaimana gejala dapat memburuk dengan cepat, terutama pada individu dengan pekerjaan meja yang lama atau postur kerja yang kurang baik.
Bagi pembaca yang mencari informasi kesehatan tulang belakang yang andal dan berbasis bukti, sumber edukasi ini disusun oleh dr. Lau Leok Lim, seorang ahli bedah tulang belakang ortopedi yang berpraktik di Singapura.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Sebaiknya saya tidur menyamping atau telentang?
Kedua posisi dapat sesuai tergantung mana yang mengurangi gejala Anda. Tidur telentang dengan bantal leher yang menopang membantu menjaga kesejajaran tulang belakang. Jika tidur menyamping, gunakan bantal yang menjaga kepala tetap sejajar dan hindari menekuk leher ke depan.
2. Berapa lama gejala akan membaik?
Sebagian besar pasien membaik dalam 6 hingga 12 minggu dengan penanganan non-bedah seperti fisioterapi, obat-obatan, dan istirahat. Waktu pemulihan bervariasi tergantung tingkat keparahan dan respons masing-masing individu terhadap pengobatan.
3. Gejala tidak membaik dengan penanganan non-bedah. Apa langkah selanjutnya?
Jika penanganan konservatif tidak berhasil, evaluasi lebih lanjut mungkin diperlukan, termasuk pencitraan (MRI), pemeriksaan saraf, atau konsultasi bedah.
4. Apa risiko operasi justru memperburuk kondisi saya?
Operasi tulang belakang umumnya aman bila dilakukan oleh spesialis berpengalaman. Namun, risikonya meliputi infeksi, iritasi saraf, gejala yang menetap, atau degenerasi segmen yang berdekatan.
5. Berapa lama masa pemulihan setelah operasi?
Sebagian besar pasien dapat kembali ke aktivitas ringan dalam 2 hingga 4 minggu. Pemulihan penuh dapat memakan waktu 6 hingga 12 minggu tergantung prosedur dan proses penyembuhan masing-masing individu.
Butuh Bantuan untuk Nyeri Leher atau Lengan?
Jika Anda mengalami nyeri leher yang menetap, nyeri menjalar ke lengan, mati rasa, atau kelemahan, evaluasi dini dapat membantu mencegah iritasi saraf jangka panjang dan mendukung proses pemulihan.
